Menu Blog

Favorit Saya

Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 September 2012

Wow RI Banyak Borong Pesawat Asal Perancis





Jakarta - Ekspansi perusahaan penerbangan Indonesia rupanya meningkatkan impor pesawat dari Perancis hingga 7.877 persen pada bulan Mei 2012 ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), seperti dikutip detikFinance, Minggu (8/7/2012) impor kapal terbang dan bagiannya dari Perancis pada bulan Mei 2012 meningkat 7.877 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Nilai impor tersebut meningkat dari US$ 909 ribu pada bulan April menjadi US$ 72,5 juta. Dengan demikian, total impor kapal terbang dari negeri tersebut dalam 5 bulan terakhir tahun ini mencapai US$ 187,7 juta.

Namun, peningkatan impor kapal terbang dari Perancis ini tidak diikuti dengan peningkatan impor dari negara pengekspor kapal terbang lainnya seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Jerman.

Pada bulan Mei ini, impor kapal terbang dari AS mengalami penurunan 12,37 persen dari US$ 315,9 juta pada bulan April turun menjadi US$ 276,8 juta. Dengan demikian, total impor kapal terbang dari negara Paman Sam ini dalam 5 bulan di tahun ini mencapai US$ 1,4 miliar.

Hal serupa juga terjadi dengan impor kapal terbang asal Inggris yang menurun 78,07 persen dari US$ 7,6 juta pada bulan April 2012 menjadi US$ 1,7 pada bulan Mei 2012. Penurunan ini menyebabkan total impor asal negara Ratu Elizabeth itu menjadi US$ 20 juta.

Begitu juga dengan impor kapal terbang dari Jerman yang menurun 92,38 persen dari US$ 47 juta pada bulan April menjadi US$ 3,6 juta pada bulan Mei. Dengan demikian, total impor kapal terbang dari negara tersebut sebesar US$ 51 juta.

Seperti diketahui, Garuda Indonesia paling gencar membeli pesawat pabrikan Perancis. Salah satunya jenis Airbus dan ATR.

Read More »
09.17 | 0 komentar

Jumat, 14 September 2012

Gara-gara Pesawat Rusak Penumpang Telantar

Pesawat Merpati mengalami kerusakan
Pesawat Merpati mengalami kerusakan



MAKASSAR
 Pesawat Merpati tujuan Makassar-Banjarmasin mengalami kerusakan sehingga penumpang menunggu jadwal pemberangkatan sekitar 6 jam di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Selasa (4/9/2012).

Pesawat Merpati MZ 573 tujuan Makassar-Banjarmasin dijadwalkankan berangkat pukul 11.45 Wita, tetapi pesawat belum mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Pesawat baru datang sekitar pukul 14.00. Pesawat kembali dijadwalkan terbang pukul 15.00 Wita, tetapi lagi-lagi pesawat tidak jadi berangkat dengan alasan pesawat mengalami kerusakan.

Salah seorang pegawai Merpati di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Astuti, mengatakan, pesawat tujuan Banjarmasin mengalami kerusakan teknis.

"Ya, Pak, pesawatnya mengalami kerusakan teknis. Jadi, pesawat dari Timika yang mendarat di Makassar harus diperbaiki dulu. Tapi penumpangnya kami kasih kompensasi sebesar Rp 300.000 karena sudah delay lebih dari 4 jam. Uangnya nanti diambil setibanya di Banjarmasin," kata Astuti kepada Kompas.com.

Sementara itu, Qutnandra, orangtua Muhammad Rafly (12), yang menitipkan putranya ke Banjarmasin melalui jasa penitipan atau UM mengaku tidak mendapat pelayanan maksimal. Pasalnya, penundaan pemberangkatan tidak disampaikan oleh pihak Merpati. Penundaan keberangkatan malah didapat dari putranya via telepon.

"Kok, pihak Merpati tidak menyampaikan penundaan pemberangkatan pesawat. Padahal sudah dipercayakan dititipkan kepada pihak Merpati. Bukan masalah uangnya, tapi kasihan anak yang menelepon dengan suara tangis dan diselimuti rasa ketakutan," ujarnya.

Qutnandra menambahkan, pihak Bandara Internasional Sultan Hasanuddin tidak memberikan pelayanan maksimal. Sebab, dia sempat tertahan di pintu masuk untuk bertemu dengan anaknya yang berada di ruang tunggu pemberangkatan.

"Kenapa repot sekali, padahal saya sudah jelaskan kepada petugas bahwa anak saya yang tertunda keberangkatannya mau saya temui sejenak untuk melihat kondisinya, apa sudah makan atau belum. Saya juga sempat bingung dengan beberapa petugas Merpati yang macam-macam jadwal pemberangkatan selanjutnya," akunya.

Sementara itu, Andrias dari Humas PT Angkasa Pura Bandara Sultan Hasanuddin menyatakan, semua pengantar dilarang masuk ke bandara dan harus melalui prosedur dengan meminta izin kepada pihak administrasi PT Angkasa Pura yang berada di bandara.

sumber : kompas.com

Read More »
08.00 | 0 komentar

Rabu, 12 September 2012

Lion Air Nyaris Gagal Take Off

Lampu Peringatan Menyala, Lion Air Nyaris Gagal-Take Off
Lampu Peringatan Menyala, Lion Air Nyaris Gagal-Take Off

BANDA ACEH
Akibat lampu peringatan yang terus menyala, pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 305 tujuan Medan nyaris gagal lepas landas di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang Aceh Besar, Jumat (7/9/2012) petang.

Menurut keterangan Komandan Lanud TNI AU SIM Kolonel Pnb Supri Abu SH MH, pilot pesawat Kapten Rizal Ali memutuskan untuk kembali ke landasan pacu Bandara SIM, setelah melakukan rolling (putaran) untuk ambil ancang-ancang akan take off.

"Kapten memutuskan untuk menurunkan sebanyak 210 penumpangnya dan kembali memeriksa kondisi pesawat. Diperkirakan ada pintu pesawat yang kurang erat tertutup, makanya lampu peringatan di pesawat terus menyala," jelas Supri Abu di Bandara Lanud Sultan Iskandar Muda, Jumat (7/9/2012).

Disebutkan Supri Abu, keputusan pilot untuk kembali dan menurunkan penumpang sudah tepat, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah hampir satu jam pesawat diperbaiki, akhirnya diputuskan pesawat bisa kembali terbang ke Medan, Sumatera Utara.

 Sudah diperbaiki dan dicek oleh teknisinya, dan kemudian diputuskan untuk bisa melanjutkan penerbangan," ujar Supri.

Akhirnya, sekitar pukul 17.58 WIB pesawat dengan tujuan Medan tersebut, berhasil lepas landas dan melanjutkan penerbangan.

Sumber : KOMPAS.com

Read More »
08.00 | 0 komentar

Selasa, 11 September 2012

Mencengankan Maskapai Asing Cari Penerbang Asal Indonesia

pesawat terbang garuda indonesia
pesawat terbang garuda indonesia


Jakarta - Pemerintah terus mengembangkan sekolah khusus pilot guna mengantisipasi tingginya permintaan pilot di Asia Pasifik terutama Indonesia sendiri. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengakui permintaan akan pilot semakin meningkat seiring dengan tumbuhnya para penumpang pesawat terbang.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan, Bambang S Ervan mengungkapkan perusahaan penerbangan asing juga ramai-ramai mencari pilot asal Indonesia.

"Demand terhadap pilot memang tinggi. Bahkan asing-pun banyak yang mencari pilot asal Indonesia. Maka dari itu kita concern sejak dahulu melihat kasus ini," ungkap Bambang ketika berbincang dengan detikFinance melalui sambungan telepon, Senin (3/9/2012).

Dijelaskan Bambang, sekolah pilot sudah mulai berkembang baik dari pemerintah maupun pihak swasta. Pemerintah, lanjut Bambang telah menyiapkan beberapa sekolah khusus pilot di berbagai daerah.

"Kita baru buka di Banyuwangi nanti ada juga sampai di Papua," terangnya.

Menurut Bambang yang menjadi permasalahan lain adalah sumber daya manusia (SDM) sendiri yang memang belum mampu masuk kriteria calon pilot. Dijelaskan Bambang, dari 900 pendaftar masuk sekolah pilot hanya 60 yang lulus.

"Secara kapasitas mumpuni, tetapi ternyata banyak yang gagal pada tes bakat bukan tes pengetahuan umum. Tes bakat itu seperti soal kematangan jiwa dan psikologis diri," tuturnya.

Lebih jauh Bambang menjelaskan, pertumbuhan pengguna moda transportasi pesawat terbang ini dari tahun ke tahun semakin bertambah. Oleh karena itu, kebutuhan akan pesawat tambahan juga diperlukan.

"Makanya pilot itu penting. Karena pertumbuhan jumlah penumpang pesawat mencapai 12-19% per tahunnya dan hal ini berakibat pada pertumbuhan jumlah pesawat," jelas Bambang.

Sebelumnya, perusahaan pemasok dan pembuat pesawat terbang asal AS, Boeing mengungkapkan Asia Pasifik akan membutuhkan 185.600 pilot baru dan 243.500 teknisi hingga tahun 2030 nanti.

Asia Pasifik menjadi salah satu kawasan yang sektor aviasi alias penerbangannya tumbuh cukup pesat. Namun, permasalahannya adalah kawasan ini akan mengalami krisis pilot dan teknisi pesawat dalam satu dekade ke depan. Hal ini dikarenakan semakin terus berkembangnya perusahaan penerbangan dan modernisasi transportasi.


Read More »
08.00 | 0 komentar

Senin, 10 September 2012

Malaysia Airlines Didenda Rp 54 Miliar

pramugari pesawat terbang Malaysia Airlines
pramugari pesawat terbang Malaysia Airlines


Sydney - Pengadilan Australia menghukum denda Aus$ 6 juta atau Rp 54 miliar terhadap Malaysia Airlines akibat diduga melakukan kartel harga kargo.

Komisi anti monopoli Australia mengatakan divisi kargo maskapai tersebut diberi denda setelah mengaku bersekongkol dengan maskapai lain dalam mengatur ongkos bahan bakar, keamanan dan kepabeanan kepada pengadilan negeri setempat.

pesawat terbang malaysia air lines take-off
pesawat terbang malaysia air lines take-off


Denda serupa juga pernah dilayangkan kepada beberapa maskapai asal Indonesia pada tahun 2009 lalu. Maskapai asal RI itu dituduh telah berkonspirasi dalam menentukan fuel surcharge.

"Denda ini menambah jumlah denda yang diberikan kepada kasus serupa dengan total rekor Aus$ 58 juta," kata Rod Sims, Kepala Australian Competition and Consumer Commission (ACCC) alias KPPU Australia.

Salah satu maskapai RI yang terkena tuduhan lakukan kartel harga adalah PT Garuda Indonesia Airlines Tbk (GIAA). Namun Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar membantah perusahaannya ikut terlibat konspirasi.


Read More »
08.48 | 0 komentar

Jumat, 07 September 2012

Luar Biasa Asia di Prediksi Bakal Hadapi Krisis Pilot

pesawat terbang boeing 787
pesawat terbang boeing 787



Jakarta - Kawasan Asia Pasifik menjadi salah satu sektor aviasi alias penerbangannya tumbuh cukup pesat. Namun, permasalahannya adalah kawasan ini akan mengalami krisis pilot dan teknisi pesawat dalam satu dekade ke depan. Hal ini dikarenakan semakin terus berkembangnya perusahaan penerbangan dan modernisasi transportasi.

Perusahaan pemasok dan pembuat pesawat terbang asal AS, Boeing mengungkapkan Asia Pasifik akan membutuhkan 185.600 pilot baru dan 243.500 teknisi hingga tahun 2030 nanti.

"Kebutuhan terbesar untuk sektor aviasi menjadi isu global. Tetapi hal ini memukul wilayah Asia dengan cukup berat," kata Direktur Sales Boeing Flight Service Bob Bellito seperti diberitakan AsiaOne, Senin (3/8/2012).

"Beberapa perusahaan airlines sudah menghadapi permasalahan seperti delay dan operasional yang terganggu karena sudah kekurangan pilot. Pertumbuhan ekonomi di Asia ternyata mempengaruhi permintaan akan pilot. Airlines dan provider kini dipusingkan oleh persiapan membentuk pilot baru dan teknisi di masa depan," paparnya lagi.

Dalam outlook yang disampaikan Boeing Pilot and Techincian 2012, Asia Pasifik terutama China yang paling banyak membutuhkan permintaan akan pilot dan teknisi. Kurang lebih sebanyak 71.300 pilot dan 99.4000 teknisi diperlukan dalam 20 tahun ke depan.

Kemudian, Asia Tenggara dimana membutuhkan 51.500 pilot dan 67.400 teknisi. Sedangkan Asia Timur sendiri, bakal membutuhkan 18.800 pilot dan 26.500 teknisi dalam dua dekade ke depan. Sedangkan Oceania sendiri bakal membutuhkan 12.900 pilot dan 17.100 teknisi.

"Secara Global, penerbangan komersil akan membutuhkan 460.000 pilot dan 601.000 teknisi antara 2012 sampai 2031," jelas Boeing dalam laporannya.

Airlines di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina sudah memesan ratusan pesawat untuk tahun-tahun ke depan.

Asia Pasifik membutuhkan 12.300 pesawat baru atau 35% sendiri dari kebutuhan pesawat global yang mencapai 34.000 hingga 2031.

Dalam 20 tahun kedepan, pesanan pesawat akan mencapai angka US$ 1,7 triliun di Asia di mana 38% sendiri dari kebutuhan pesawat global yang mencapai US$ 4.47 triliun.

"Kita bisa saja menjual pesawat. Tapi anda tidak akan mudah mendapatkan sang sopir (pilot) dan teknisinya. Industri ini butuh pemuda yang cukup tinggi gajinya dan karir yang terus maju," tutup laporan tersebut.


Read More »
07.30 | 0 komentar

Rabu, 05 September 2012

PT DI Tawarkan Pesawat N219 Ke Kazakhstan

PT DI Tawarkan Pesawat N219 Ke Kazakhstan



Jakarta - Industri dirgantara Indonesia memperoleh angin segar. PT Dirgantara Indonesia (DI) memperoleh transaksi pembelian pesawat N219 buatan PT DI.

Direktur Pengembangan dan Teknologi PT DI, Dita Ardonni Jafri mengatakan pihaknya sedang menjajaki kerjasama dalam bentuk join development dengan dua perusahaan pesawat Kazakhstan.

"Kita menawarkan kerjasama dan masih taraf penawaran, yang ditawarkan pesawat N219. Kita menawarkan join development," ungkapnya kepada detikFinance, Jumat (25/5/2012).

Doni mengungkapkan, pihak Kazakhstan sangat membutuhkan pesawat berbadan kecil untuk keperluan pertanian. Menurutnya, pesawat buatan PT DI jenis N219 sesuai untuk memenuhi kebutuhan di Kazakhstan.

"Kebutuhan mereka itu yang lebih untuk pertanian (pesawat). Ini (pesawat N219) juga bisa dikembangkan sebagai pesawat pertanian," sambungnya.

Untuk kerjasama dengan pihak Kazakhstan, PT DI menginginkan bentuk join development supaya bisa memperoleh kucuran dana segar untuk pengembangan usaha.

"Kita cari pusing-pusing cari modal, syukur itu (kerjasama dengan Kazakhstan) bantu modal," sanggahnya.

PT DI menegaskan akan membangun pabrik di Kazakhstan, jika pihak Kazakhstan membeli pesawat dalam jumlah yang besar.

"Kita mau bangun pabrik kalau dia (pihak Kazakhtan) beli dalam jumlah tertentu atau banyak. Kalau sedikit mau bangun pabrik, tapi biaya pabrik dari sana," sebutnya.

Doni menjelaskan, pihak Kazakhtan telah 1 kali datang ke Indonesia untuk bertemu dengan pihak PT DI, dan PT DI sendiri telah dua kali kali datang ke Kazahkatan untuk membahas kerjasama pembelian pesawat N219.

Air Astana hingga ini banyak memakai pesawat pabrikan dari Boeing hingga Airbus. PT DI akan menjadi pabrikan pertama asal Indonesia di Kazakhstan.

"Kita itu dua kali pertemuan ke sana dan mereka (Kazakhtan) 1 kali ke Indonesia," tutupnya.

Kazakhstan saat ini mempunyai maskapai nasional yakni Air Astana. Air Astana membuka penerbangan langsung dari Kazakhstan via Almaty dan Astana ke berbagai negara seperti Kuala Lumpur, Dubai, dan Kazakhstan.



Read More »
07.47 | 0 komentar

Selasa, 04 September 2012

TNI AU Membeli Pesawat Tempur Taktis Super Tucano Seharga USD 143 juta


JAKARTA–Untuk memperkuat kekuatan Skuadron Udara 21 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang, TNI AU membeli pesawat tempur taktis Super Tucano buatan Brasil 16 unit dengan total biaya USD 143 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun. Pembelian ini dilakukan dalam beberapa tahap.

Wakasau Marsdya TNI Dede Rusamsi mengatakan, untuk tahap pertama didatangkan 4 pesawat yang hari ini telah tiba di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur.

“Kita sudah beli pesawat tempur taktis Super Tucano EMB-314 beserta persenjataan lengkap yang sudah satu paket dengan pelatihan dengan harga USD 143 juta untuk 16 buah pesawat (1 skuadron). Tahap selanjutnya, pada bulan Januari 2013 akan tiba 4 pesawat lagi dan seterusnya hingga lengkap 16 buah pesawat, setiap tahapnya akan dikirim 4 buah pesawat,” ujar Dede di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Sabtu (1/9/2012).

Pesawat Super Tucano TNI AU ini memiliki warna dasar doreng abu-abu dengan tambahan lukisan moncong hiu berwarna merah atau cocor merah sesuai tradisi skuadron sejak pesawat P-51 Mustang. “Pemilihan warna ini sudah sesuai dengan survei di mana dengan warna ini berguna dalam hal kamuflase disesuaikan dengan kondisi Indonesia yang bergunung dan berbukit” jelasnya.

“Pesawat ini sudah lama kami nantikan dan akhirnya sekarang dapat didatangkan. Ke depan pesawat ini akan digunakan unutk melindungi kedaulatan di seluruh wilayah kita, NKRI,” tambahnya.

Dede menjelaskan, pesawat yang dibeli TNI AU ini adalah 
tipe EMB-314 berkemampuan serang antigerilya (counter insurgency), pengendali udara depan (forward air control), dukungan udara dekat (closed air support), penyekatan (interdiction) dan pertahanan udara (kecepatan rendah), dengan kemampuan tambahan sebagai pesawat latih dan fungsi pengawasan udara (air surveillance).

“Pesawat ini bermesin tunggal Turboprop Pratt & Whitney PT6A-68C berdaya 1600 tenaga kuda dan sanggup terbang sejauh 1400 km atau 3,5 jam terbang namun bila ditambah drop tank atau tangki tambahan mampu terbang lebih jauh sejauh 2.855 km/jam atau 7,5 jam terbang. Kecepatan pesawat maksimum 320 knot/580 kmph dengan kecepatan o[erasi normal 280 knot/500 kmph,” jelasnya.

Kedatangan 4 pesawat Super Tucano yang memiliki warna dasar doreng abu-abu dengan nomor ekor TT-3101, TT-3102, TT 3103 dan TT 3104 ini diterbangkan langsung dari pabrik Embarer di San Jose dos Campos Brasil pada tanggal 20 Agustus 2012 dipimpin oleh Kapten Pilot Carlos Alberto beserta 7 pilot lainnya yang melintasi 12 negara dimulai dari Brasil, Cape Verde, Spanyol, Maroko, Italia, Yunani, Mesir, Qatar, Oman, India, Thailand sebelum tiba di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang pada hari Minggu 2 September 2012 besok.

“Sebelum diterbangkan ke Indonesia keempat pesawat ini telah mendapat pemeriksaan meliputi klarifikasi dokumen, pencocokkan komponen pesawat, interior pesawat dan uji terbang yang melibatkan personel ahli dan penerbang uji TNI AU,” terangnya.


Pesawat Tempur Taktis Super Tucano Beserta Misil
Pesawat Tempur Taktis Super Tucano
misil bom buatan dalam negeri
misil bom buatan dalam negeri
SUPER TUCANO AKAN DIPERSENJATAI PRODUCT LOKAL DAN BOM BUATAN DALAM NEGERI 




 

Pesawat tempur ringan Super Tucano yangs segera memperkuat jajaran alat utama sistem senjata (alutsista) TNI Angkatan Udara akan mengandalkan persenjataan dari dalam negeri.

Hanya misil andalan pesawat ini yakni MAA-1 Piranha didatangkan dari luar karena industri pertahanan dalam negeri belum mampu membuatnya. Pesawat ini dijadwalkan tiba di Tanah Air pada 28 Agustus nanti setelah diterbangkan dari pabrik pembuatnya Embraer, Brasil. Menurut Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat seusai peringatan Hari Bhakti TNI AU, pada 28 Agustus nanti ada empat unit Super Tucano yang tiba di Tanah Air.

Tiga bulan selanjutnya disusul empat unit lagi sehingga tahun ini ada delapan Super Tucano untuk mengisi Skuadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Pengadaan pesawat asal Brasil ini terpisah dengan sistem persenjataannya.“Kalau untuk senjata seperti bom, kita sudah bisa buat sendiri. Kita pakai itu. Tapi kalau seperti misil Piranha, kita belum bisa buat, jadi harus beli,” ungkapnya belum lama ini.

Sementara itu,Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Azman Yunus menambahkan, empat unit pesawat tempur ringan Super Tucano sudah siap untuk diterbangkan dari Brasil ke Indonesia.Keempat pesawat itu adalah Super Tucano TT-3101, TT-3102, TT-3103, dan TT-3104 dengan desain moncong berwarna merahkarya almarhumMarsda TNI (Purn) F Djoko Poerwoko.

Tim dari Kementerian Pertahanan dan TNI Angkatan Udara telah melakukan pemeriksaan pesawat dengan nomor seri produksi 179 dan 180 tersebut di fasilitas produksi Embraer di Gaveao Peixoto, SaoPaulo, Brazil. Pemeriksaan meliputi dokumen, pencocokan komponen pesawat, interior pesawat, pengecatan, dan uji terbang. Adapun uji terbang dilaksanakan oleh test pilot Embraer, William disertai oleh Komandan Skuadron Udara 21 Mayor Pnb James Yanes Singal.


Misil andalan pesawat ini yakni 
MAA-1_Piranha didatangkan dari luar karena industri pertahanan dalam negeri belum mampu membuatnya

sumber sindo dan kaskus

Quote:
Super Tocano jelas peruntukannya bukan untuk dogfight frontal dalam perang udara besar melawan pesawat semacam F16 dan sejenisnya (untuk ini AU kita mempunyai pesawat tempur jet jenis lain untuk keperluan ini), tetapi lebih kepada menjaga dan penindakan gangguan keamanan dalam negeri seperti mengawasi dan menjaga perbatasan terutama pulau-2 terluar di seluruh wilayah Indonesia, pengintaian keamanan garis perbatasan dengan negara tetangga, penumpasan gangguan gerilya separatis semacam OPM , mencegah penyelundupan narkoba lewat laut, penumpasan bajak laut dll.TS.

Read More »
01.15 | 0 komentar

Senin, 13 Agustus 2012

Maskapai penerbangan Garuda Indonesia mulai H-7 hingga H+7 Lebaran, tepatnya pada periode 15-26 Agustus 2012, menambah kapasitas 20.484 kursi.

Pesawat Terbang Garuda Indonesia
Pesawat Terbang Garuda Indonesia


JAKARTA, KOMPAS.com — Maskapai penerbangan Garuda Indonesia mulai H-7 hingga H+7 Lebaran, tepatnya pada periode 15-26 Agustus 2012, menambah kapasitas 20.484 kursi.          

Demikian diinformasikan oleh Vice President Corporate Communications Garuda Indonesia Pujobroto, Rabu (25/7/2012), di Jakarta.          

Rute penerbangan yang mendapatkan tambahan tempat duduk tersebut adalah rute Jakarta-Denpasar pergi-pulang (6.872 kursi) yang terbagi dalam 26 penerbangan tambahan, rute Jakarta-Singapura pp (8.260 kursi) yang terbagi dalam 28 penerbangan tambahan, rute Jakarta-Padang pp (3.484 kursi) yang terbagi dalam 26 penerbangan tambahan, dan Jakarta-Yogyakarta pp (1.872 kursi) yang terbagi dalam 12 penerbangan tambahan.          

"Garuda Indonesia saat ini belum menambah kapasitas ke rute-rute penerbangan ke Medan, Surabaya, Balikpapan, dan Palembang mengingat frekuensi penerbangan ke kota-kota tersebut cukup tinggi (di atas 10 kali sehari). Permintaan yang ada masih dapat diakomodir dengan kapasitas yang tersedia saat ini," ujar Pujobroto.

Peningkatan kapasitas yang dilakukan Garuda Indonesia ke rute-rute yang mengalami peningkatan dilakukan dengan mengalihkan pengoperasian pesawat dari rute-rute yang tidak terlalu padat ke rute-rute yang mengalami peningkatan permintaan cukup besar.

Apabila selama periode H-7 sampai  H+7 tahun 2011 Garuda Indonesia menyiapkan 804.000 tempat duduk, pada periode yang sama tahun ini Garuda Indonesia menyiapkan 878.000 tempat duduk atau meningkat 74.000 tempat duduk.          

Selain itu,  Citilink—Strategic Business Unit Garuda—juga mengalami peningkatan kursi penerbangan reguler (selama periode H-7 sampai H+7 Lebaran tahun 2012) sebanyak 70.560 kursi dibandingkan dengan penerbangan tahun lalu. Jumlah produksi Citilink pada periode H-7 sampai H+7 tahun 2012 mencapai 176.400 tempat duduk, meningkat dari tahun 2011 yang sejumlah 105.840 tempat duduk.          

Dengan demikian, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, total peningkatan jumlah kursi yang disiapkan Garuda dan Citilink pada periode H-7 sampai H+7 Lebaran 2012 ini adalah 144.560 tempat duduk.          

Dalam mengantisipasi lonjakan arus penumpang selama periode libur sekolah dan Lebaran ini, Garuda membentuk Tim Pelaksana dan Pemantau Pelayanan Penumpang (TP-4) untuk memastikan peningkatan layanan bagi penumpang. Garuda Indonesia juga menerapkan kebijakan operasional "flexible response"—merespons berbagai perkembangan yang terjadi secara fleksibel, di mana perencanaan penambahan kapasitas kursi tersebut akan terus diikuti perkembangannya berdasarkan kondisi yang terjadi dan diputuskan sesegera mungkin secara "on the spot".

Read More »
08.00 | 0 komentar